Pesona Indahnya Pantai Selatan
Banyuwangi
Indahnya Pantai Rajegwesi di pagi hari, terlihat suasana di ufuk timur matahari beranjak munculkan diri
|
BANYUWANGI, BPW - Banyuwangi boleh dibilang jadi favoritnya wisata
Jawa Timur beberapa tahun terakhir ini. Sejumlah event yang gencar digelar
pemerintah daerah berjuluk Sunrise Of Java inipun berhasil menarik wisatawan
untuk bertandang dan mengeskplor keindahan Banyuwangi lebih mendalam lagi.
Kunjungan wisatawan ke Banyuwangi kini tak hanya
sekedar melihat keindahan si api biru (Blue Fire) Kawah Ijen saja, namun juga
merembet ke sejumlah pantai di Banyuwangi yang memiliki keindahan yang tak
kalah dengan daerah lain serta masih alami.
Pesona yang ditawarkan pun berlipat-lipat karena
alamnya yang masih asri. Hal ini juga didukung dengan garis pantai yang
dimiliki Banyuwangi cukup panjang, mencapai 175 km. Tak heran jika daerah yang
dulunya merupakan bagian dari kerajaan Blambangan ini memiliki pantai dengan
pemandangan yang menakjubkan.
Bahkan banyak pantai yang dulunya cukup asing di
Banyuwangi kini begitu diminati wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Malahan,
dari pantai-pantai tersebut menjadi favorit para pecinta surfing internasional
karena ombaknya yang begitu menantang. Sebut saja Pantai Plengkung dan Pulau
Merah. Masih ada lagi pantai yang lainnya yang tak kalah menakjubkan, seperti
Pantai Green Bay atau Teluk Ijo, Pantai Pancur dan tak ketinggalan Pantai
Rajegwesi.
Pantai Rajegwesi sendiri berada di Desa Sarongan, Kecamatan
Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Secara geografis, masuk dalam wilayah Taman
Nasional Meru Betiri (TNMB). Karenanya, pantai ini pun dikelilingi dengan hutan
tropis hijau yang menyejukkan mata kala memandang. Kendati begitu, Pantai
Rajegwesi memiliki ombak yang lebih kecil dibandingkan pantai di laut selatan
pada umumnya.
Sehingga banyak penduduk di sekitar pantai yang
menjadi nelayan dan bisa melaut dengan tenang. Deretan perahu nelayan
yang ada di bibir pantai semakin mewarnai pemandangan yang ada di Pantai
Rajegwesi. Pantai ini memiliki pasir yang berwarna coklat karena tercampur
dengan endapan lumpur sungai yang terbawa hingga sampai di laut. Saking banyaknya
nelayan yang berlabuh di pantai ini, di pagi hari daerah di bibir pantai
menjadi sibuk dengan keramaian pelelangan ikan yang dilakukan nelayan dan
pembeli yang ingin mendapatkan ikan-ikan segar hasil tangkapan mereka.
Pantai Rajegwesi sendiri awalnya ditemukan pada masa
kekuasaan Jepang dimana mereka membangun bunker pengintai di balik bukit capil
yang ada di sebelah barat pantai. Bahkan nama Rajegwesi berasal dari
kekuatan pertahanan laut tentara Jepang kala itu yang diambil dari Bahasa Jawa.
Kata Rajeg bermakna tiang pancang, sementara Wesi berarti besi. Sehingga jika
disatukan berarti tiang pancang dari besi.
Deretan perahu nelayan di bibir pantai mewarnai pemandangan di Pantai Rajegwesi |
Namun sebenarnya tiang pancang yang ditancapkan Jepang
di perairan Teluk Rajegwesi terbuat dari kayu jati yang memiliki kekuatan
setara besi dan ditancapkan di mulut teluk dengan ber-sap dimana bagian depan
dan belakangnya dibuat saing menutupi celah. Hal ini tentunya akan menyulitkan
kapal musuh yang hendak menyusup ke bibir pantai.
Dahulunya masih ada beberapa peninggalan Jepang yang
tersisa di bunker tersebut, seperti meriam yang moncongnya langsung
mengarah ke teluk Rajegwesi. Bukan saja meriamnya yang hilang diambil
orang-orang tak bertanggung jawab, namun juga Rajegwesi-nya.
Tinggallah kini bunker Jepang ini sebagai bangunan tua
yang disebut dengan nama Goa Jepang oleh penduduk sekitar. Orang-orang yang
tinggal di sekitar Pantai Rajegwesi juga kemungkinan ada yang keturunan orang
Yogyakarta karena dahulu untuk menancapkan Rajegwesi, tentara Jepang membawa
pekerja dari Yogyakarta untuk memasangnya.
Selain sejarah Jepang yang menghilang di pantai ini,
namun pantai ini juga sempat rusak terkena terjangan tsunami ketika berlangsung
tragedi pada 3 Juni 1994 silam. Bukan saja area sekitar pantai rusak parah,
namun peristiwa tersebut juga menewaskan kurang lebih 200 jiwa. Namun kini
dengan semakin banyaknya wisatawan yang bertandang ke pantai ini, membuat
beberapa akses pantai diperbaiki.
Meski untuk akses jalannya masih berlubang di
sana-sini. Namun pemandangan yang ditawarkan pantai ini menjadi alasan
wisatawan untuk bertandang. Bukan hanya pasirnya yang berwarna putih kecoklatan
dan hutan tropis yang mengelilinginya, namun juga gugusan bukit di tepi teluk
yang membuat topografi pantai begitu unik dan menjadi obyek yang menarik untuk
pecinta landscape fotografi. Mau berenang, mandi, maupun snorkling bisa
dilakukan dengan aman karena ombaknya yang cenderung tenang. Sekedar bersantai
pun juga bisa.
Pantai Rajegwesi berjarak 80 kilometer dari pusat kota
Banyuwangi. Tidaklah sulit untuk menumpuh perjalanan menuju destinasi wisata
yang satu ini. Bagi yang datang baik dari arah jember ataupun Banyuwangi,
terlebih dahulu menuju kota Jajag Kecamatan Gambiran. Lalu dilanjutkan ke desa
Pesanggaran, Sarongan dan sampai lah di Pantai Rajegwesi.
Jalanan yang sengaja dibiarkan alami dan tidak
beraspal akan ditemui di sepanjang jalan Desa Sarongan. Jalanan berlumpur dan
berlubang memberikan kesan petualangan dan adventure. Dari desa ini,
sepanjang mata memandang akan disuguhkan pemandangan hamparan perkebunan yang
sangat luas, mulai dari pohon jati, sengon, perkebunan karet dan coklat. Jika beruntung,
akan bertemu dengan satwa yang berkeliaran di perkebunan ini seperti kera
hitam, burung elang serta satwa lainnya yang sangat indah dan menarik. (Hakim
Said)
0 komentar:
Posting Komentar
Berikan komentar anda dengan baik dan benar, mohon tidak beriklan di kolom komentar. Jika anda ingin berpromosi, direkomendasikan/endorse, atau beriklan, anda bisa " Kontak Kami Langsung ". Terima kasih.