![]() |
Hartono, korban isu santet yang sekarang jadi terpisah
dengan istrinya
|
BANYUWANGI,
BPW - Isu santet di zaman modern ini, terlepas
dari percaya atau tidak akan keberadaan ilmu ini, masih sangat santer. Biasanya
hal ini terjadi pada daerah-daerah terpencil. Ilmu santet merupakan bagian dari
ilmu metafisika yang merupakan salah satu cara pertahanan diri. Ada banyak
ragam corak dan setiap daerah mempunyai kadar dan tipe yang tak sama.
Di tanah Jawa, beberapa daerah
merupakan gudang dari “orang sakti”. Ada dua Provinsi yang paling terkenal
tinggi ilmunya, yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Untuk wilayah Jawa Timur,
Banyuwangi memegang urutan nomor satu untuk yang satu ini. Tak dapat dipungkiri
karena Banyuwangi, menilik dari sejarah, merupakan Kabupaten terluas dan paling
timur pulau Jawa. Alam yang masih alami dan terbentang bisa jadi berpengaruh
terhadap kemampuan bertahan hidup seseorang, salah satunya adalah berkembangnya
ilmu kanuragan dan metafisika.
Menilik dari dampak psikologis yang
ditimbulkan, sebagian orang memanfaatkan isu ini untuk menghancurkan nama baik
orang lain, terutama yang tidak ia sukai. Rasa traumatis serta ketakutan yang
mendalam terhadap dampak kematian ataupun luka parah tak hayal membuat banyak
orang ketakutan, dan tuduhan sebagai tukang santet ataupun fihak yang
ditengarai menggunakan dukun santet, di mata masyarakat merupakan penghancuran
reputasi paling buruk dalam sosial kemasyarakatan.
Hartono, pria asal dusun Gadog, Desa
Watukebo dengan alamat Desa Karang Bendo, Kecamatan Rogojampi, harus merasakan
pahit getirnya fitnah yang ditimbulkan oleh isu santet ini. Dia dipaksa
berpisah dengan istri dan anak yang dicintainya oleh keluarga besarnya hanya
karena fitnah tak berdasar yang dihembuskan oleh orang lain.
“Semua bermula dari kematian A yang
waktu itu sakit parah. Saya dan A merupakan teman seprofesi. Kami pernah
bekerja dalam satu wilayah dan waktu bersamaan," tutur Hartono.
Kematian A yang tidak wajar, menurut
keluarga A menjadi pertanyaan besar, terutama bagi bapak A yang bernama MK. Dia
sinyalir bahwa kematian anaknya dikarenakan terkena illmu santet, melihat dari
sakit anaknya yang terlalu parah dan tidak sembuh-sembuh serta harus bolak
balik masuk Rumah Sakit. Asumsi yang tidak berdasar ini diperkirakan bentuk
depresi dan keputusasaan dari pihak keluarga A dan Hartonolah akhirnya yang
menjadi sasaran kemarahan akibat keputusasaan ini.
"Padahal, sebelum kematian A,
dengan iktikad baik saya menemui MK untuk klarifikasi perihal isu ini. MK
sendiri sudah menyatakan bahwa saya tidak bersalah dan kami bersepakat untuk
melupakan hal tersebut dan fokus untuk kesembuhan A," papar Hartono.
Semenjak kematian anaknya, MK menjadi
sangat agresif. Penyebaran fitnah disertai ancaman senjata tajam oleh MK kepada
Hartono. Puncak kejadian pada hari Senin (24/4/17) yang bertepatan dengan hari
kematian anaknya, MK mendatangi rumah Hartono mencari keberadaan dirinya serta
berteriak mengganggu kepentingan umum. Tidak hanya berteriak mengancam, MK pun
membawa senjata tajam (clurit) serta masuk tanpa izin ke pekarangan dan kebun
belakang Hartono lalu merusak tanaman jeruk, buah naga dan kandang ayam.
Gencarnya isu kematian karena santet
yang dikirim Hartono (melalui jasa dukun santet), membuat dirinya sementara
waktu harus menyingkir dari rumah kediamannya dan berpisah dengan keluarga.
Keputusan berpisah dari keluarga diambil setelah mendapat ancaman langsung dari
MK.
"Saya takut hal ini berimbas
kepada istri dan anak saya. Lagipula keputusan menyingkir dari rumah, sambil
menunggu 7 hari setelah kematian, saya ambil setelah mendapatkan saran dari
fihak keluarga istri," kisah Hartono.
Selama waktu berada jauh dari
keluarga, Hartono tetap melaksanakan tugasnya mencari nafkah. Dia tetap bekerja
dan terus berkomunikasi dengan istri dan mertua terkait kondisi terakhir.
Awalnya istri Hartono turut menyertai, tetapi sesudah satu hari, dia memutuskan
untuk kembali ke keluarganya. Hartono mengizinkan, akan tetapi selang waktu
berlalu istri Hartono tidak kembali. Sudah banyak usaha yang Hartono lakukan
agar komunikasi tetap terjalin dari menghubungi via telpon sampai menemui ibu
mertua untuk menanyakan kabar istri dan anaknya.
"Saya menduga ada fihak-fihak
yang tidak menyukai kehadiran saya kemudian memanfaatkan situasi kematian A
untuk mencemarkan nama baik saya di mata istri dan keluarga besar saya. Padahal
saya amat mencintai istri dan anak serta keluarga besar dan memang sebelumnya
tidak ada permasalahan apapun dengan mereka," bebernya.
Namun karena semua mediasi dirasa buntu,
tak ada jalan lain akhirnya Hartono pun melapor ke pihak berwajib dan
memperkarakan ke ranah hukum terkait pencemaran nama baik yang menimpa dirinya.
Hal ini dia lakukan karena dirinya merasa dirugikan perihal fitnah santet yang
menerpanya. Termasuk pengancaman dengan senjata tajam disertai perusakan
properti serta pencemaran nama baik oleh MK yang menyebabkan retaknya hubungan
keluarga.
“Saya sudah sampaikan pengaduan dan
laporan saya secara tertulis kepada Kapolsek Rogojampi dan saya tembuskan
kepada Kapolres Banyuwangi pada Jumat kemarin. Harapan saya ada keadilan yang saya
dapatkan karena saya tidak pernah melakukan semua hal yang dituduhkan. Saya
hanya membela kehormatan serta hak saya didepan istri, anak, keluarga serta
masyarakat,” tutup Hartono.
Kapolsek Rogojampi, Kompol. Toha
Choiri dikonfirmasi media ini membenarkan adanya pengaduan dari Hartono.
“Urusannya sudah di Reskrim. Nanti
akan segera ditindaklanjuti mas,” ucapnya ditemui dikantornya, Jumat (13/5/17).
(Apong
Sugianto & Misbachul Munir)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan komentar anda dengan baik dan benar, mohon tidak beriklan di kolom komentar. Jika anda ingin berpromosi, direkomendasikan/endorse, atau beriklan, anda bisa " Kontak Kami Langsung ". Terima kasih.