Sabtu, 13 Mei 2017

Tak Terima Diisukan Nyantet Orang, Pria Ini Mengadu Ke Polisi


Hartono, korban isu santet yang sekarang jadi terpisah dengan istrinya

BANYUWANGI, BPW - Isu santet di zaman modern ini, terlepas dari percaya atau tidak akan keberadaan ilmu ini, masih sangat santer. Biasanya hal ini terjadi pada daerah-daerah terpencil. Ilmu santet merupakan bagian dari ilmu metafisika yang merupakan salah satu cara pertahanan diri. Ada banyak ragam corak dan setiap daerah mempunyai kadar dan tipe yang tak sama. 

Di tanah Jawa, beberapa daerah merupakan gudang dari “orang sakti”. Ada dua Provinsi yang paling terkenal tinggi ilmunya, yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Untuk wilayah Jawa Timur, Banyuwangi memegang urutan nomor satu untuk yang satu ini. Tak dapat dipungkiri karena Banyuwangi, menilik dari sejarah, merupakan Kabupaten terluas dan paling timur pulau Jawa. Alam yang masih alami dan terbentang bisa jadi berpengaruh terhadap kemampuan bertahan hidup seseorang, salah satunya adalah berkembangnya ilmu kanuragan dan metafisika. 

Menilik dari dampak psikologis yang ditimbulkan, sebagian orang memanfaatkan isu ini untuk menghancurkan nama baik orang lain, terutama yang tidak ia sukai. Rasa traumatis serta ketakutan yang mendalam terhadap dampak kematian ataupun luka parah tak hayal membuat banyak orang ketakutan, dan tuduhan sebagai tukang santet ataupun fihak yang ditengarai menggunakan dukun santet, di mata masyarakat merupakan penghancuran reputasi paling buruk dalam sosial kemasyarakatan. 

Hartono, pria asal dusun Gadog, Desa Watukebo dengan alamat Desa Karang Bendo, Kecamatan Rogojampi, harus merasakan pahit getirnya fitnah yang ditimbulkan oleh isu santet ini. Dia dipaksa berpisah dengan istri dan anak yang dicintainya oleh keluarga besarnya hanya karena fitnah tak berdasar yang dihembuskan oleh orang lain. 

“Semua bermula dari kematian A yang waktu itu sakit parah. Saya dan A merupakan teman seprofesi. Kami pernah bekerja dalam satu wilayah dan waktu bersamaan," tutur Hartono. 

Kematian A yang tidak wajar, menurut keluarga A menjadi pertanyaan besar, terutama bagi bapak A yang bernama MK. Dia sinyalir bahwa kematian anaknya dikarenakan terkena illmu santet, melihat dari sakit anaknya yang terlalu parah dan tidak sembuh-sembuh serta harus bolak balik masuk Rumah Sakit. Asumsi yang tidak berdasar ini diperkirakan bentuk depresi dan keputusasaan dari pihak keluarga A dan Hartonolah akhirnya yang menjadi sasaran kemarahan akibat keputusasaan ini. 

"Padahal, sebelum kematian A, dengan iktikad baik saya menemui MK untuk klarifikasi perihal isu ini. MK sendiri sudah menyatakan bahwa saya tidak bersalah dan kami bersepakat untuk melupakan hal tersebut dan fokus untuk kesembuhan A," papar Hartono. 

Semenjak kematian anaknya, MK menjadi sangat agresif. Penyebaran fitnah disertai ancaman senjata tajam oleh MK kepada Hartono. Puncak kejadian pada hari Senin (24/4/17) yang bertepatan dengan hari kematian anaknya, MK mendatangi rumah Hartono mencari keberadaan dirinya serta berteriak mengganggu kepentingan umum. Tidak hanya berteriak mengancam, MK pun membawa senjata tajam (clurit) serta masuk tanpa izin ke pekarangan dan kebun belakang Hartono lalu merusak tanaman jeruk, buah naga dan kandang ayam. 

Gencarnya isu kematian karena santet yang dikirim Hartono (melalui jasa dukun santet), membuat dirinya sementara waktu harus menyingkir dari rumah kediamannya dan berpisah dengan keluarga. Keputusan berpisah dari keluarga diambil setelah mendapat ancaman langsung dari MK. 

"Saya takut hal ini berimbas kepada istri dan anak saya. Lagipula keputusan menyingkir dari rumah, sambil menunggu 7 hari setelah kematian, saya ambil setelah mendapatkan saran dari fihak keluarga istri," kisah Hartono. 

Selama waktu berada jauh dari keluarga, Hartono tetap melaksanakan tugasnya mencari nafkah. Dia tetap bekerja dan terus berkomunikasi dengan istri dan mertua terkait kondisi terakhir. Awalnya istri Hartono turut menyertai, tetapi sesudah satu hari, dia memutuskan untuk kembali ke keluarganya. Hartono mengizinkan, akan tetapi selang waktu berlalu istri Hartono tidak kembali. Sudah banyak usaha yang Hartono lakukan agar komunikasi tetap terjalin dari menghubungi via telpon sampai menemui ibu mertua untuk menanyakan kabar istri dan anaknya. 

"Saya menduga ada fihak-fihak yang tidak menyukai kehadiran saya kemudian memanfaatkan situasi kematian A untuk mencemarkan nama baik saya di mata istri dan keluarga besar saya. Padahal saya amat mencintai istri dan anak serta keluarga besar dan memang sebelumnya tidak ada permasalahan apapun dengan mereka," bebernya. 

Namun karena semua mediasi dirasa buntu, tak ada jalan lain akhirnya Hartono pun melapor ke pihak berwajib dan memperkarakan ke ranah hukum terkait pencemaran nama baik yang menimpa dirinya. Hal ini dia lakukan karena dirinya merasa dirugikan perihal fitnah santet yang menerpanya. Termasuk pengancaman dengan senjata tajam disertai perusakan properti serta pencemaran nama baik oleh MK yang menyebabkan retaknya hubungan keluarga.

“Saya sudah sampaikan pengaduan dan laporan saya secara tertulis kepada Kapolsek Rogojampi dan saya tembuskan kepada Kapolres Banyuwangi pada Jumat kemarin. Harapan saya ada keadilan yang saya dapatkan karena saya tidak pernah melakukan semua hal yang dituduhkan. Saya hanya membela kehormatan serta hak saya didepan istri, anak, keluarga serta masyarakat,” tutup Hartono. 

Kapolsek Rogojampi, Kompol. Toha Choiri dikonfirmasi media ini membenarkan adanya pengaduan dari Hartono.

“Urusannya sudah di Reskrim. Nanti akan segera ditindaklanjuti mas,” ucapnya ditemui dikantornya, Jumat (13/5/17). (Apong Sugianto & Misbachul Munir)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar anda dengan baik dan benar, mohon tidak beriklan di kolom komentar. Jika anda ingin berpromosi, direkomendasikan/endorse, atau beriklan, anda bisa " Kontak Kami Langsung ". Terima kasih.