![]() |
Nato, pelaku
penipuan asal Desa Sumberkencono Wongsorejo
|
BANYUWANGI,
BPW - Di era digital ini, penipuan melalui media
sosial semakin marak terjadi. Media sosial yang seharusnya menjadi sarana
komunikasi jarak jauh, decade ini oleh sebagian orang diselewengkan fungsi dan
tujuannya.
Derasnya informasi menyebabkan hampir
tak ada ruang untuk penyaringan. Orang begitu gampangnya menelan mentah-mentah
segala informasi yang diberikan. Tidak adanya filter ini akhrnya dimanfaatkan
oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk mengeruk keuntungan dari orang
lain dengan melakukan penipuan.
Kejadian ini menimpa seorang Pegawai
Negeri Sipil (PNS) bernama H. Zainal Abidin (57) asal Kota Jambi, Provinsi
Jambi. Berawal berkenalan dengan Nato (46) warga Dusun Krajan RT 02 RW 01 Desa
Sumberkencono, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi. Alih-alih
mendapatkan keuntungan dari kemitraannya dalam bisnis investasi penggemukan
sapi, ia malah mendapatkan kerugian dari separo dari total investasinya.
Akhirnya pada Jumat kemarin (12/5/17),
bertempat di Polsek Wongsorejo, Zainal Abidin yang datang dari Jambi langsung
melaporkan modus penipuan yang dilakukan Nato ke Mapolsek Wongsorejo. Kepada
polisi, Zainal menceritakan oprkenalannya dengan Nato melalui media sosial.
“Waktu itu saya tertarik dengan yang
ditawarkan Nato. Karena memang saya suka sekali dengan dunia peternakan, maka
saya pun ingin bekerja sama,” ungkap pria berkaca mata ini.
Diawal komunikasi, sebenarnya pria
asal Jambi yang bekerja di kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Jambi
ini tidak langsung bermitra bisnis dengan Nato. Saat komunikasi terjalin
melalui Facebook (FB), Nato bercerita mengenai latar belakang, status sosial
serta keluhan-keluhan yang membuat hatinya tergerak untuk meringankan
permasalahannya.
“Cara dia menjalin komunikasi
betul-betul patut diacungi jempol. Dengan kedok sopan santun serta alim, membuat sayaluluh. Sedikitpun saya tidak ada rasa
curiga kepada dia,” papar lelaki yang sudah naik haji ini.
Selain dari karakter Zainal sendiri
yang memang gampang berempati, iapun semakin percaya ketika Nato juga
mengirimkan foto identitas berupa KTP. Akhirnya Zainal pun yakin dan
mentransfer sejumlah uang modal sesuai permintaan Nato dengan iming-iming
keuntungan investasi di bisnis penggemukan sapi limusin.
“Pertama untuk modal awal sekitar 11
juta, sekitar bulan Februari dan menjanjikan bahwa sapi yang digemukkan setiap
4,5 bulan sekali akan jual dan dibelikan sapi yang baru. Kedua 11,5 juta.
Ketiga 10 juta dan keempat 3 juta untuk pakan ternak sapi yang telah dibelinya.
Jadi total semua uang yang saya transfer 35,5 juta,” bebernya.
Kecurigaan Zainal muncul ketika Nato
meminta 30 juta lagi untuk perbaikan kandang dengan alasan bahwa ia malu kepada
orang bahwa kandangnya jelek. Merasa uang sebesar itu terlalu besar dan mewah
untuk ukuran kandang sapi, maka ia hanya berniat memberikan suntikan dana
sebesar 5-6 juta saja. Namun ternyata Nato yang tidak dipenuhi keinginannya
mulai berulah dan menunjukkan gelagat tidak beres. Bahkan belakangan mulai
menghindari komunikasi. Segala akses komunikasi baik melalui nomor selular
maupun media sosial yang selama ini menjadi penghubung tidak dapat digunakan.
Nomor selular tidak dapat dihubungi dan akun FB sudah berganti nama. Padahal
cuma itu satu-satunya cara komunikasi antara Zainal dengan Nato karena keduanya
belum pernah bertemu secara fisik.
Zainal tidak berputus asa. Dia terus
malacak keberadaan Nato di dunia maya dan akhirnya Zainal menemukan bahwa akun
FB Nato telah berganti nama. Kemudian Zainal beriktikat baik untuk menjalin
komunikasi terkait kelanjutan bisnis mereka. Akan tetapi jawaban Nato membuat
Zainal kehabisan kesabaran. Dia tidak hanya tidak menghormati selaku kawan
bisnis, tetapi dia juga melontarkan kata-kata kotor berbau pornografi. Bahkan terakhir
Nato menantang Zainal untuk datang ke Banyuwangi sekaligus mengangkat hal ini
naik ke ranah hukum.
“Mungkin dia merasa bahwa saya tidak
akan datang ke sini, sehingga begitu pede-nya menantang saya. Padahal bagi
saya, kehilangan uang sebesar itu bukan sebuah masalah karena niat awal saya
hanya ingin membantunya,” ujar Zainal.
Tak menunggu waktu lebih lama lagi,
langsung saja Zainal menghubungi teman asal Banyuwangi yang bekerja di Jambi
lalu keduanya meluncur segera ke Banyuwangi dengan tujuan Polsek Wongsorejo
untuk melaporkan perihal penipuan bisnis penggemukan sapi. Kapolsek Wongsorejo,
AKP. Kusmin, SH melalui Brigadir A. Taufik yang menerima lapoan segera bergerak
menelusuri keberadaan Nato.
“Data laporannya valid, kami bersama
tim langsung meluncur ke TKP,” ungkap Brigadir Taufik.
Setelah bertemu dengan terlapor dan
dikonfrontir antara keduanya, akhirnya pelapor yang tidak ingin meneruskan
kerjasama bisnis penggemukan sapi meminta diselesaikan malam itu juga.
“Saya sudah kehilangan
kepercayaan kepada Nato, sehingga saya memutuskan sapi investasi saya harus
dijual sesudah saya berikan apa yang menjadi hak dia selaku pemelihara,” ungkap
pria penyuka traveler ini seraya berpesan kepada masyarakat agar jangan mudah
percaya sebagaimana pelajaran yang didapatnya walaupun atas dasar kasihan. (Misbachul Munir)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan komentar anda dengan baik dan benar, mohon tidak beriklan di kolom komentar. Jika anda ingin berpromosi, direkomendasikan/endorse, atau beriklan, anda bisa " Kontak Kami Langsung ". Terima kasih.