Banyuwangi Police Watch (BPW)/Lembaga Pengamat Kepolisian di Wilayah Polres Banyuwangi adalah Organisasi Masyarakat / Ormas Nirlaba yang fokus sebagai Pengamat Swadaya Masyarakat. Kami menerima sumbangan dari para donatur, yang bersifat tidak mengikat. Kirimkan sumbangan Anda ke Rekening Bank Mandiri 1-430-012-521538, an: M.Hakim Said,SH (HP/WA: 0823-3835-5251). Dana akan digunakan maksimal untuk pengamatan, penelitian, analisa, investigasi, dan pengawasan kinerja kepolisian, pendampingan hukum, dan aksi tanggap sosial bencana bagi masyarakat terutama yang membutuhkan bantuan.
Kontak Langsung :
Alamat Kantor : Jalan Ikan Sulir, Perum Sutri Blok D1, Sobo, Banyuwangi. Kontak HP / SMS / WA : 0823-3835-5251

BERITA UTAMA PILIHAN REDAKSI

Hukum, Kepolisian, Keamanan, & Ketertiban

Politik, Pilpres, Pilkada, dan PIleg

Pemerintahan, Satpol PP, & Ketertiban Umum

Militer, Pertahanan, & Keamanan

Manusia, Alam, Nafas Kehidupan, dan Lainnya

Tampilkan postingan dengan label Cagar Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cagar Budaya. Tampilkan semua postingan

Candi Alas Purwo, Jejak Pertemuan Terakhir Brawijaya dan Sabdopalon

Jumat, 24 Februari 2017 | Pasang Iklan | Ingin Donasi? | Kerjasama | Lowongan | Gabung BPW



Candi Alas Purwo yang disakralkan, dipercaya sebagai lokasi terakhir bertemunya Prabu Brawijaya dengan Sabdopalon

BANYUWANGI, BPW - Kabupaten Banyuwangi yang dahulu dikenal dengan Blambangan, menyimpan banyak kisah sejarah. Salah satunya, Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) di wilayah Kecamatan Tegaldlimo. 

Di kawasan hutan alami ini, terdapat bangunan Candi Alas Purwo yang disakralkan. Konon, tempat ini menjadi lokasi terakhir bertemunya Prabu Brawijaya dengan Sabdopalon, beberapa saat setelah Majapahit runtuh. 

Candi Alas Purwo berada di pesisir teluk Pangpang. Secara administrasi, masuk Dusun Pondok Asem, Kecamatan Tegaldlimo. Lokasinya berada di tengah hutan bakau, sangat sunyi dan indah. 

Di dekat candi terdapat muara, pertemuan sungai dengan air laut. Hulu dari kawasan ini berada di Semenanjung Sembulungan, Muncar. Bangunan candi terlihat menjulang, ukirannya bernuasna khas Majapahit. 

Tempat ini kerap dikunjungi sebagai lokasi wisata religi. Terutama, umat Hindu Bali dan umat Hindu dari Tegaldlimo. Bahkan, ada juga pengikut Kejawen yang kerap mendatangi lokasi ini untuk melakukan semedi. 

Petunjuk menuju arah Candi Alas Puwo
Warga juga menyebut lokasi candi ini dengan Gumuk Gadung. Sepintas, memang lokasinya berada di ketinggian.

Versi warga, bukit ini menjadi saksi bisu pertemuan antara Raja Majapahit Prabu Brawijaya dengan sang abdi dalem terdekatnya, Sabdopalon. 

Konon, kala itu, ketika Majapahit runtuh, Brawijaya ke Blambangan. Lalu, di bukit inilah terjadi diskusi terakhir antara Brawijaya dengan Sabdopalon. Hasilnya, Brawijaya memilih pergi ke Gunung Lawu. Sedangkan Sabdopalon yang setia dengan ajaran leluhur, lenyap. Hilang ke alam nirwana.

Dulu, sebelum dibangun candi, terdapat sebuah pohon kelampis ireng. Nama Candi Purwo ini juga memiliki makna mendalam. Harapannya, masyarakat tetap ingat dengan kawitan atau sejarah. Candi juga sebagai simbol kebesaran Nusantara dengan kebhinekaan. 

Ketua Parisadha Hindu Dharma (PHDI) Kecamatan Tegaldlimo, Joko Setiyoso mengatakan, Pura Agung Candi Purwa itu dibangun tahun 1996. Dananya dari swadaya umat Hindu Tegaldlimo, dibantu donator dari Bali. 

Petunjuk menuju arah Candi Alas Puwo
Lalu, 11 September 2011 digelar pamelaspas atau upacara peresmian. Kala itu, diyakini, tonggak sejarah kembalinya Sabdapalon ke tanah Jawa. Sekaligus, tonggak sejarah Nusantara. 

Lokasi candi cukup jauh dari keramaian. Bangunannya perpaduan khas Jawa dan Bali.  Namun, dominan Jawa, terutama mirip peninggalan era Majapahit. Bangunannya menghadap ke timur arah matahari terbit. Ini simbul kawitan atau awal. 

Menuju lokasi candi, dibutuhkan sedikit perjuangan. Dari kota Banyuwangi butuh sekitar 2 jam. Jalur menuju candi ini satu arah dengan Taman Nasional Alas Purwo. Begitu masuk ke kawasan hutan, akan muncul papan nama menuju candi. Jalannya masih sempit.

Memasuki Dusun Pondok Asem, Desa Kedungasri, pengunjung harus menyusuri jalan ma
kadam, sekitar 3 kilometer. Lalu, jalan setapak dikelilingi hutan bakau rindang. Medannya cukup sulit. Setelah itu, pengunjung harus berjalan kaki hingga ke pelataran candi. Sebab, tak bisa dilalui kendaraan. 

Jalan makadam menuju arah Candi Alas Purwo
Bagi yang suka berpetualang spiritual, kawasan candi ini sangat cocok. Tempatnya hening, jauh dari hiruk pikuk warga. Di hari-hari tertentu, banyak pengunjung menginap di tempat ini. Beberapa juga datang dari luar daerah. Salah satunya, dari Bali. 

Bagi yang ingin menginap, di dekat candi dibangun sebuah balai. Bisa menampung sekitar 50 orang. Sebagai kawasan wisata religi, Candi Purwo belum dilengkapi fasilitas umum. Seperti warung. Sehingga, bagi yang ingin bermalam, sebaiknya membawa perbekalan sendiri. 

Deretan hutan bakau dan sekumpulan burung menjadi obyek menarik. Pengunjung juga tak perlu mengeluarkan biaya saat masuk ke kawasan ini.

Ditempat terpisah, Kepala Desa Kedungasri Sunaryo pada media ini mengatakan, bahwa situs itu tentu tak hanya sekedar menjadi magnet sejarah. Pihak pemerintah desa melalui niatnya ingin menjadikan tempat itu sebagai tempat wisata baru bagi warga. Tak hanya wisata alam, melainkan juga sebagai wisata religi.

"
Tentu kita harus mendukung dengan pembangunan akses jalan untuk menuju ke Candi Alas Purwo. Karena ini dirasa sangat penting sebagai penguatan, tidak hanya sejarah maupun religi, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang mampu dikembangkan bagi warga," papar Sunaryo, Kepala Desa Kedungasri. (Eko Prastyo)

Persinggahan Syekh Siti Jenar di Desa Lemahbang Kulon Banyuwangi

Selasa, 14 Februari 2017 | Pasang Iklan | Ingin Donasi? | Kerjasama | Lowongan | Gabung BPW



Petilasan Syekh Siti Jenar di Dusun Sukorejo, Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Singojuruh

BANYUWANGI, BPW - Syekh Siti Jenar, merupakan salah satu wali yang dianggap kontroversial karena ajaran 'Manunggaling Kawulo Gusti'. Konon beliau pernah singgah di Banyuwangi. Tepatnya di Dusun Sukorejo, Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Singojuruh. Hingga kini, kedatangan Syekh Siti Jenar itu dibekukan dalam simbol nama desa.

"Beliau lahir di Lemah Abang Cirebon. Setiap tempat yang pernah disinggahi beliau pasti akan dinamai lemah abang atau tanah abang," ungkap Turin, Juru Kunci Lastono Petilasan Syekh Siti Jenar Lemah Abang, kepada media ini,  Selasa (14/02/17).


Petilasan Syekh Siti Jenar di Dusun Sukorejo, Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Singojuruh

Lastono Petilasan Syekh Siti Jenar, kata Turin, merupakan tempat makam-makam para bangsawan Kerajaan Blambangan yang mencapai luas 17 hektare. Penemuan ini, bermula saat banyak warga yang mencangkul di area Lastono lantas menemukan pondasi dan makam.

"Namun sekarang yang dijaga dalam pagar ini luasnya 30 meter persegi," ujarnya.

Di areal makam yang ditemukan warga pada tahun 1468 Masehi itu sebagian besar tertimbun tanah. Sedangkan Syekh Siti Jenar sendiri, lahir pada tahun 1426 Masehi.


 
Petilasan Syekh Siti Jenar di Dusun Sukorejo, Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Singojuruh

"Di dalam bangunan itu, ada makam para abdi dalem Syekh Siti Jenar. Kalau yang itu makam kuno tahun 1913. Jaman Belanda saat mbangunnya. Bahan bakunya sama dengan pondasi rel," tuturnya.

Turin sendiri mengakui, tahu sekilas sejarah Blambangan dan kedatangan Syekh Siti Jenar ke Banyuwangi melalui cerita turun-temurun. 

"Ceritanya ya dapat dari embah. Secara tutur tinular," ujarnya.

Dia mengatakan, kedatangan Syekh Siti Jenar di Banyuwangi bukan untuk menyebarkan agama. Melainkan untuk bertapa dan menenangkan diri.


Petilasan Syekh Siti Jenar di Dusun Sukorejo, Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Singojuruh

"Syekh Siti Jenar ke sini pengen mencari kesejukan, ketenangan. Dia datang dari Bintoro, Demak. Jadi tempat ini sangat disakralkan," ujarnya.

Lastono Petilasan Syekh Siti Jenar Lemah Abang, setiap hari tidak pernah sepi pengunjung. Turin, selalu meminta kepada khalayak yang berkunjung untuk mengisi buku tamu. Sejak 2004 menjaga, dia mengaku sudah menghabiskan tiga buku tebal berisi daftar kunjungan tamu.

"Rata-rata kedatangan mereka untuk nguri-nguri (berdoa). Ada yang dari Lumajang, Banten, Kebumen, Kalimantan, Sumatra, Aceh, Bali, Flores. Kadangkala, sering juga mereka nginap sampai seminggu lamanya," bebernya.

Dikatakan oleh Turin, tempat tersebut bebas untuk dikunjungi siapapun. Dan tidak ada syarat khusus bila ingin berkunjung. Karena dengan sendirinya petilasan tersebut bisa menjadi wisata sejarah sekaligus untuk berdoa.

"Bebas ke sini mas. Asalkan bisa saling menghargai," tuturnya.

Hari-hari yang paling ramai, katanya, setiap malam Jumat manis, dan saat bulan Suro (Jawa). Tidak seperti area makam pada umumnya, di sini sudah terdapat fasilitas tempat duduk seperti gazebo, warung dan toilet. 

Ada juga satu pohon beringin yang sangat besar, membuat tempat ini selalu sejuk dan nyaman dikunjungi. (Eko Prastyo)

Air Sumber Jeding Yang Tak Pernah Kering,



Diyakini Sebagai Tempat Pemandian Putri Sri Tanjung

Mbah Wahono, tunjukkan air di sumber jeding yang terletak di Dusun Pekulo, Desa Kepundungan, Kecamatan Srono

BANYUWANGI, BPW - Di Dusun Pekulo, Desa Kepundungan, Kecamatan Srono, ada sebuah sumber mata air yang diapit 2 pohon beringin besar. Masyarakat setempat meyakini, bahwa sumber tersebut ada sejak kejayaan kerajaan Majapahit. 

Oleh masyarakat, mereka sebut 'Sumber Jeding' karena dibawah aliran sumber itu terdapat 2 'belik' (kolam air). Keberadaan sumber itu sangat bermanfaat bagi para petani. Sumber yang mengalirkan air bening itu mampu mengaliri sawah seluas 50 Ha.

Sekalipun musim kemarau, petani yang memiliki sawah di sekitar aliran Sumber Jeding tidak pernah mengeluh. Mengingat sekalipun musim kemarau panjang melanda Bumi Blambangan, air sumber disitu tidak pernah kering.

Konon menurut masyarakat, dahulu Sumber Jeding sebelum ramai adanya perkampungan kondisinya berupa hutan belantara. Di hutan ini sempat menjadi tempat persinggahan Raden Damar Wulan, ketika melakukan perjalanan. 

Kala itu, Damar Wulan sedang beristirahat, kemudian terlebih dulu mengikat tali kudanya ke dua pohon besar itu. Akibat perjalanan jauh ia akhirnya kehausan dan mencari air minum di sekitar hutan. Setelah lama mencari, seteguk airpun tidak ditemukan. Lantas, gagang cemeti yang dipegangnya ia tancapkan ke tanah tepat di antara kedua pohon beringin itu.
Dengan izin Tuhan, sumber mata air dari cemetinya mengalir sangat deras. Melihat fenomena itu, Damar Wulan langsung meminum air ajaib tersebut.

Dari legenda yang ada itu, hingga sekarang warga menggunakan sumber air ini untuk kebutuhan hidup sehari - hari.

Menurut Balok Suwarno (65), warga dekat Sumber Jeding, kepada media ini mengatakan, air yang ada yang berada di Sumber Jading tidak pernah surut. Meskipun kemarau melanda wilayah ini. Selain itu, airnya pun juga bisa langsung diminum  walaupun  tidak dimasak saking bersih dan beningnya. 

"Air nya tidak pernah surut, meskipun pada musim kemarau sekalipun. Selain itu air ini bisa langsung kita minum sekalipun tidak dimasak. Airnya sangat jernih dan menyehatkan," kata Balok Suwarno ditemui di lokasi Sumber Jeding, Selasa, (14/02/17).

Menurut Sumber lain Mbah Wahono (70) dia kisahkan, Sumber Jeding merupakan salah satu tempat pemandian Putri Sritanjung pada sejarah berdirinya Banyuwangi. Sumber Jeding juga berkaitan erat keberadaan kerajaan Kedawung.

“Saya belum ada, sumber ini sudah ada. Dan menurut keyakinan masyarakat sejarahnya ya seperti itu,” kata Mbah Wahono sesepuh Dusun Pekulo Desa Kepundungan.

Mitos keberadaan sumber ini dipercayai, jika warga hendak hajatan tidak melakukan 'kenduri' (selamatan) di Sumber Jeding, maka malapetaka akan menimpa.

Tak heran jika setiap warga menyelenggarakan hajatan melakukan prosesi selamatan terlebih dahulu di sumber keramat ini.

“Dulu ada warga yang tidak selamatan. Orang tuanya meninggal, dan mempelainya matanya juling,” papar Mbah Wahono.

Rata-rata saat melakukan kenduri kata Mbah Wahono, warga membawa wadah untuk mengambil air di mata air tersebut, sebagai syarat memasak makanan keperluan hajatan.
Jika tidak melaksanakan, jangan harap masakan yang dimasak bisa dimakan lantaran tidak bisa matang.

“Itu keyakinan masyarakat dari dulu. Pernah ada kejadian karena yang punya hajat tidak percaya,” terangnya. (Eko Prastyo)

Situs Cagar Budaya Watu Tumpang Ada Di Banyuwangi Selatan

Minggu, 29 Januari 2017 | Pasang Iklan | Ingin Donasi? | Kerjasama | Lowongan | Gabung BPW

Watu Tumpang yang berada di Hutan Petak 69, RPH Karetan, BKBH Karetan, KPH Banyuwangi Selatan masuk wilayah Dusun Sidodadi, Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo 
 
Banyuwangi, BPW - Situs Selo Tumpang atau Watu Tumpang yang berada di Hutan Petak 69, RPH Karetan, BKBH Karetan, KPH Banyuwangi Selatan masuk wilayah Dusun Sidodadi, Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi merupakan Sebuah Situs Cagar Budaya bersejarah di Banyuwangi.
   
Dengan bangunan utama seluas 144  meter persegi, kondisinya tampak sangat terawat. Di tengah-tengah bangunan itulah ada batu berukuran cukup besar dengan posisi menumpang atau menindih batu lain. Batu yang berada di bawah berukuran lebih besar atau lebar ketimbang batu di atasnya.

Konon, berdasar cerita di masyarakat, sejarah batu tumpang itu bermula pada tahun 1922 Masehi ada pasangan suami istri (Pasutri) Tropawirorejo dan Raden Ayu Ruminah atau Mbah Kusumorejo membuka hutan.

Ketika membuka hutan, Pasutri itu memberi batas atau tanda hutan yang telah dibabat menggunakan dua batu kecil yang ditumpuk. Batu yang dijadikan batas dengan cara ditumpangkan itu tiba-tiba berubah menjadi besar. Sejak itulah warga kemudian memberi sebutan Watu Tumpang atau Selo Tumpang, atau juga disebut dengan sebutan Mbah Widjojokusumo.
 
 

Di tempat itu,  nampak dari arah pintu masuk, di sisi kanan ada bangunan lapang mirip sebuah balai banjar (tempat pesamuan umat Hindu, red). Di bangunan yang berlantai keramik itu, ada sebuah tikar dan karpet. Di tempat itu biasanya sering digunakan para pengunjung untuk melakukan ritual bersemedi.

Sementara, di sisi kiri pintu masuk terdapat sebuah pondokan yang dilengkapi meja panjang dan kursi kayu sepanjang dua meter. Tempat itu disediakan bagi para pengunjung untuk bersantai dan duduk-duduk.

Menurut keterangan Nanang (38), Juru Kunci Watu Tumpang, di tempat tersebut sebagai juru kunci pertamanya dulu adalah almarhum Mbah Bugiman warga Desa Karetan.

“Juru kunci yang pertama kali adalah almarhum Mbah Bugiman mas,” terang Nanang Minggu (29/1/17).

Dikatakan oleh Nanang, seiring  dengan berjalannya waktu, Watu Tumpang ini kemudian oleh masyarakat sekitar dikeramatkan dan sering dijadikan tempat bersemedi. Khususnya setiap malam Jumat Kliwon dan Jumat Legi.

“Kalau bulan Suro (dalam kalender Jawa), lebih ramai lagi,” terangnya.

Bahkan, pengunjung yang datang untuk melakukan ritual di Watu Tumpang banyak yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Seperti dari Aceh, Jakarta, Demak, Kudus, Semarang, Jogjakarta, Cirebon, Surabaya dan Bali serta berbagai kota lain di Indonesia.

‘’Yang datang ditempat ini rata-rata orang jauh-jauh pokoknya mas,’’ katanya.

Situs Watu Tumpang itu oleh sebagian masyarakat sampai saat ini dipercaya dan masih disakralkan. Jika warga memiliki hajatan, seperti khitanan,  menikahkan, mereka menggelar selamatan dengan membawa nasi tumpeng di tempat tersebut.
 
 

Situs Watu Tumpang dulu hanya sebuah batu biasa di atas permukaan tanah. Pada tahun 1988 batu tersebut pernah dibongkar paksa menggunakan  peledak (dinamit) dan hancur menjadi beberapa bagian. Tetapi, tidak berselang lama batu itu berkumpul kembali dalam bentuk seperti semula.

Karena banyak warga yang datang dari luar daerah, pada tahun 2002 oleh salah satu tokoh agama setempat, Marjono, Watu Tumpang dipugar dan dibuatkan bangunan beserta pagarnya.

 “Hingga kini Watu Tumpang masih terawat dengan baik. Yang jelas setiap hari-hari pasaran kliwon selalu ada saja warga yang berkunjung kesini,” pungkasnya. (Eko Prastyo)

Opini Publik, Pemerhati, Tokoh, Masyarakat

Profil & Aktifitasnya

Pengamat Polres, Polsek, Bhabinkamtibmas

 

© Copyright Banyuwangi Police Watch (BPW) 2016 -2017 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.