Banyuwangi Police Watch (BPW)/Lembaga Pengamat Kepolisian di Wilayah Polres Banyuwangi adalah Organisasi Masyarakat / Ormas Nirlaba yang fokus sebagai Pengamat Swadaya Masyarakat. Kami menerima sumbangan dari para donatur, yang bersifat tidak mengikat. Kirimkan sumbangan Anda ke Rekening Bank Mandiri 1-430-012-521538, an: M.Hakim Said,SH (HP/WA: 0823-3835-5251). Dana akan digunakan maksimal untuk pengamatan, penelitian, analisa, investigasi, dan pengawasan kinerja kepolisian, pendampingan hukum, dan aksi tanggap sosial bencana bagi masyarakat terutama yang membutuhkan bantuan.
Kontak Langsung :
Alamat Kantor : Jalan Ikan Sulir, Perum Sutri Blok D1, Sobo, Banyuwangi. Kontak HP / SMS / WA : 0823-3835-5251

Kopi Lego, Tawarkan Cita Rasa Kopi Khas Pegunungan

Minggu, 21 Mei 2017 | Pasang Iklan | Ingin Donasi? | Kerjasama | Lowongan | Gabung BPW


Haryono 'Ha'o', konseptor Kopi Lego bersama Taufik (Ketua Serikat Kopi Rejo) lingkungan Lerek Kelurahan Gombengsari

BANYUWANGI, BPW - Saat ini, Kopi Lego berhasil menjelma sebagai merk dari sebuah kopi produksi lokal dari Kabupaten Banyuwangi yang cukup dikenal. 

Kopi Lego yang merupakan singkatan dari Kampung Kopi Lerek Gombengsari, tidak hanya menawarkan cita rasa kopi khas pegunungan saja, tetapi lebih dari itu. Hal ini diungkapkan oleh Haryono, atau yang lebih akrab dipanggil “Ha'o”, ketika disambangi di pusat Stand Kopi Lego di Dusun Lerek, Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Minggu (21/5/17) sore. 

“Melihat potensi mayoritas warga Gombengsari yang merupakan petani kopi dan peternak kambing perah, terbesit ide untuk membuat stand Kopi Lego sebagai branding kopi edukasi serta wisata pertanian kopi perkebunan rakyat dan peternakan kambing perah. Kemudian ide itu ditelurkan dalam kegiatan Festival Petik Kopi bulan Agustus 2016 pada saat panen raya. Tiga bulan kemudian diadakanlah Festival Kopi Lego pada bulan November 2016, yaitu pasca panen,” jelas Ha'o.

Panen kopi tidak hanya sekedar panen, tetapi diselipkan unsur edukasi. Para tamu akan diikutkan dalam proses petik, giling basah, pengeringan, giling kering, menjadi OC sampai proses tradisional roasting. 

“Semua dilaksanakan dengan manual. Diteruskan dengan menumbuk dan ngopi bareng,” terang Ha'o lagi. 

Kopi Lego lebih mengangkat tradisi budaya termasuk seni budaya serta makanan tradisional yang memang adalah produk lokal asli Gombengsari. Selain kopi dan susu, madu hutan juga merupakan komoditi asli yang dikembangkan dari hasil budidaya lebah di kebun kopi. Sisi modern tidak ditinggalkan dan mengacu pada kebersihan dan kesterilan dari produk itu sendiri. Di luar itu semua, proses betul-betul memakai feeling, dan itu yang menjadi ciri khas. Dengan harapan mudah ditiru oleh masyarakat sekitar sehingga menjadi tradisi aktifitas sehari-hari terutama pada ibu-ibu. 

“Jadi proses produksi tidak hanya ketika ada tamu yang datang,” terang lelaki yang juga peternak kambing ini. 

Taufik, Ketua Serikat Tani Kopi Rejo Lingkungan Lerek Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro mengatakan, bahwa masyarakat pada mulanya melakukan praktek budidaya kopi dari petik sampai pasca panen masih asal-asalan. Setelah diadakan pendekatan dan bergabung ke serikat tani, maka diberikanlah pengetahuan agar proses di lakukan dengan cara yang benar. 

Bersantai sejenak sambil menikmati kopi di Stand Kopi Lego di Lingkungan Lerek Kelurahan Gombengsari

“Sehingga dari budidaya yang baik akan menghasilkan kualitas kopi yang bagus,” jelas Taufik. 

Lebih lanjut Taufik mengatakan, proses yang awalnya adalah petik hijau lambat laun berganti menjadi petik merah (buah). Biji kopi kering yang telah jadi awalnyapun langsung dijual oleh masyarakat, tetapi setelah dilakukan pendampingan serta diajarkan untuk mengolah lebih lanjut, akhirnya masyarakatpun melakukan proses mengolah biji kopi kering menjadi kopi bubuk yang harganya lebih mahal. 

“Dan ini merupakan peningkatan dari segi perekonomian dan tentu saja berdampak pada kesejahteraan dari petani itu sendiri,” papar Taufik lebih lanjut. 

Jumlah anggota Serikat Tani sebanyak 36 orang dengan lahan garapan 57 hektar dan produksi panen sebesar 74 Ton/ tahun degan rata-rata perhektar 1,3 ton. Tahun ini panen diperkirakan pada bulan Agustus. 

“Kemitraan dengan Kopi Lego sangat luar biasa. Efek yang terjadi adalah perubahan pola fikir pada masyarakat yang awalnya tidak punya ide bagaimana kopi bisa dikembangkan lebih luas lagi, tetapi saat ini menjadi bisa menjadi kenyataan. Produksi awal hanya rata-rata 5 kg/hari, sekarang rata-rata 15-25 kg/hari. Jangka panjang proses kopi tidak hanya pada satu titik, tetapi akan kita sebar apa yang kita usahakan saat ini manfaatnya bisa berdampak luas,” terang lelaki berjenggot ini. 

Berbagai macam tamu datang mengunjungi Stand Kopi Lego. Tidak hanya dari lokal tetapi juga manca negara. Beberapa komunitas, pegawai perkantoran sengaja berlibur dan mampir untuk menikmati citarasa kopi asli Banyuwangi atau hanya sekedar menyapa kesejukan udara lereng pegunungan. Akses jalan juga sangat mudah untuk menuju ke Kampong Kopi Lego, kendati tidak ditemui petunjuk arah yang bisa membimbing tepat ke lokasi. (Misbachul Munir & Agus Sobirin)

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar anda dengan baik dan benar, mohon tidak beriklan di kolom komentar. Jika anda ingin berpromosi, direkomendasikan/endorse, atau beriklan, anda bisa " Kontak Kami Langsung ". Terima kasih.

 

© Copyright Banyuwangi Police Watch (BPW) 2016 -2017 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.